Kemarin malam aku berhasil merampok waktunya selama 24 menit 35 detik dari waktu 24 jam yang disediakan perharinya. Dan selama itu pula aku terjebak dalam keramaian riuh suaranya yang lembut, melumpuhkan system saraf otakku. Yang pada akhirnya aku hanya bisa menyimak dan terpedaya karenannya.
Aku larut. Kau berhasil menjadi siluetku yang terus mengahantui aku kemanapun. Membawa asa-asku ke dalam dimensi yang sebenarnya tak aku duga sebelumnya. Dan disitu, tempat biasa kau berdiri dengan seyum simpulmu, tampak menjelma menjadi bait-bait lagu rindu yang mengisi kekosongan padang ilalang hatiku.
Kapan kita berbaring di rumput liar dan menghitung bintang bersama-sama lagi?
Kapan kita dendangan lagu bising kita ketika matahari terbit dari ufuk timur?
Kapan kita berlari-lari menerjang hujan dan duduk di bebatuan sekedar melihat pelangi?
Jika aku bisa mengahadang laju waktu, akan kulakukan dan ku ubah arusnya. Mengenang semua itu, membuatku lunglai tak percaya kau tak ada di sisi.
Maka akan kulakukan 1001 cara untuk mengulangnya ketika wajah lugumu hadir di depan batang hidungku. Akan kutulis cerita kita di atas pasir putih di seluruh pesisir pantai ini. Walau mungkin akan hilang di hempas ombak gila dan hujan yang setiap saat bisa mengguyur, pahatannya tak akan terhapus dalam dinding-dinding hatiku.