tok..tok…tok..
gaduh suara sandalmu yang biasa melangkah anggun bak bidadari yang jatuh dari langit dan mencari jalan untuk pulang ke khayangan.
dan setiap sang surya menampakan batang hidungnya
aku selalu di situ, di tempat biasa
berdiri mematung, namun imajinasi terhanyut
berkeliaran mencari satu sosok sederhana
tak bersayap, tak bercahaya
namun di langit dan kolong hatiku
kau tetap bidadari hatiku
tok…tok..tok
suara itu masih menggema di seatero langit-langit hatiku
dan di etalase ini..
di tempat berukuran lebarnya kurang dari 2 meter
yang sesak oleh barang-barang berharga, bercampur debu tebal
kedua bola kita bertemu untuk pertama kalinya
dipertemukan oleh skenario Tuhan
disusul oleh nyanyian hatiku
dengan backsound
denyut nadi berdenyut abnormal
detak jantung berdetak diluar kewajaran
keringat dingin jatuh mesra menghujani kedua sisi dahiku
plus sindrom gagap sebagai musik orkestranya
tok…tok…tok….
dan ketika kau lewat
seluruh kalimat puitis yang kurangkai semalam suntuk lenyap tak berbekas. aku sersihir. kau seperti berjalan di atas karpet merah dengan puluhan body guard bertato ratusan dengan gambar beraneka ragam:naga, macan kumbang, ular, sampai kucing anggora. plus berkacamata hitam ala tukang pijat , serta otot-otot sebesar batu kali. belum lagi cahaya kamera yang susul-menyusul berebut mengabadikan rupa anggunmu itu, membuat aku nelangsa dengan kebodohanku karena aku berteriak sekuat tenaga, berusaha menyentuhmu. jarak kita padahal dekat, tak ada barang semeterpun, namun imajinasi yang menyeret dan melemparku jauh berkilo-kilo sehingga aku hanya bisa menatapmu tersenyum, melambaikan tangan, lalu berjalan pergi.kau benar-benar racun manisku yang berhasil melumpuhkan ragaku, melumpuhkan otakku, dan meruntuhkan logikaku.
tok..tok..tok..
suara itu masih menggaung di dalam lorong hatiku
dan akan terus begitu